Cerkak Bahasa Jawa, Masih Tetap Bertahan dan Tak Tergerus Modernisasi Zaman

163

Bidhuan.id – Apa itu cerkak bahasa jawa? Cerkak bahasa Jawa adalah cerita yang dituliskan dan diungkapkan dalam bahasa Jawa dengan berbagai macam jenis dan gaya bahasa. Bagi Anda yang tidak mendalami bahasa Jawa mungkin baru pertama kali ini mendengarnya? Anda yang orang asli Jawa pun mungkin belum tentu mengetahuinya dimana memang kini bahasa daerah semakin dilupakan. Justru lebih banyak orang yang belajar Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Jawa.

Nah, agar kita tidak terus melupakan budaya negeri ini dan mengenalnya sediki demi sedikit, kali ini kami membahas tentang cerkak bahasa Jawa. Yuk simak!

Tentang Cerkak Bahasa Jawa

Di awal pembahasan telah kami jelaskan apa itu cerkak bahasa Jawa, umunya cerita dalam bahasa Jawa ini dibuat dengan tujuan memberikan pengaruh positif kepada pembacanya karena di dalamnya telah disematkan kisah atau renungan tentang kebaikan yang berhubungan dengan budaya Jawa.

Cara penyampaiannya bisa dilakukan dengan bahasa Jawa ngoko atau santai dan bahasa Jawa krama atau yang lebih resmi. Cerkak bahasa Jawa tidak sama dengan novel yang sering dituangkan dalam bahasa Indonesia, cerkak bahasa Jawa ini memiliki cakupan yang sempit, hanya terdapat satu alur dengan tokoh yang teratas serta umunya hanya mengisahkan tentang suatu peristiwa.

Unsur di Cerkak Bahasa Jawa

Dalam pembuatannya, cerkak bahasa Jawa tidak hanya dituliskan dalam kalimat yang mengalir seperti ketika menemui tulisan tentang curhatan atau sharing, namun penulisan lebih hati-hati dan mendalam karena harus berisi unsur-unsur berikut :

  1. Pesan moral

Di dalamnya ada pesan yang berhubungan dengan cerita yang disampaikan, tentunya tenang kebaikan yang bisa ditiru dan dijadikan pelajaran.

  1. Konflik inti

Merupakan bagian yang berisi tentang permasalahan sebuah cerita, dialami oleh tokoh utama yang dikenalkan dan bagaimana sikapnya dalam menghadapi masalah yang ada.

  1. Puncak

Ialah bagian paling penting dan mendalam dari cerita yang disampaikan, berisi dari akhir cerita atau kesimpulan dari cerkak.

  1. Eksposisi

Yaitu lokasi atau setting cerita dan bagaimana situasi di dalamnya.

  1. Peristiwa

Yakni waktu dan komitmen tokoh utama, tentang dasar dan uraian dari  yang disampaikan.

Cerkak bahasa Jawa memiliki unsur pola ataupun juga tidak memiliki pola sebab ceritanya yang singkat, biasanya hanya berada di satu eksposisi dengan awal yang mendadak. Pesan moralnya tidak dipastikan dimana bagiannya, bisa di awal, tengah, atau puncak dari cerita.

Asal Mula Cerkak Bahasa Jawa

Cerkak bahasa Jawa awalnya tidak dituliskan, hanya berupa penceritaan lisan yang berisi tentang kisah-kisah orang terkenal, dalam perjalannnya, kisah tadi dituliskan agar bisa dikenang dan diceritakan ulang dengan mudah serta agar terus diingat akan inti kisahnya. Semua cerita dan pesan moral hanya bisa dipahami saat seluruh cerita telah disampaikan.

Contoh Cerkak Bahasa Jawa

Berikut ini contoh dari cerkak bahasa Jawa, pastikan Anda paham bahasa Jawa agar bisa memahaminya ya.

Pak Mukidi kui juragan sapi neng duwe pithek walek sing iso ngomong lucu karo koncone. Yen pithek kui ketemu pithek liane iso gawe cerito lucu nganti guyu mekekelen. Kadang pithek iku iso cerito pengalaman uripe dewe sing durung tau dialami koncone. Contone ngarang cerito turu neng meja terus dikeloni manuk.

Pitheke pak Mukidi kuwi kadang kolo koyo badut pas de’e kentekan bahan lelucon. Pithek liane sing diceritani seneng dungokke lan nanggepi ceritone, mestino yo ancen ditanggepi amargo ne ngomong jelas ora ngawur.

Sawijining dino pithek kui lunga adoh terus ndelik neng jero guwo karo nangis, nagise sampek dungu kancil sing lagi luru wit-witan neng jero guwo.

Kancil : “Lapo kowe tik pithek”.

Pithek : “Sedih tenan aku cil, wuluku kuwalik ora koyo pithek liane, elek tur ora rapi”.

Kancil  : “Halah laopo sedih, rapopo, aku ae malah da duwe wulu”.

Pithek : “Sakbendino aku kui ngarang cerito ben konco-koncoku gelem nyedak, amargo aku isisn due wulu ngene iki, nak ora ngono mesti do ra gelem cedak karo pithek walek koyo aku”.

Kancil : “Walah wong kowe ra ngarang cerito ae koncomu yo jeh seneng karo kowe kok, malah koncomu sansoyo akeh nak kowe gelem ngrungokke liane, ra jaluk dirongokke tok, salah banget ne kowe jarakan ngarang ceritopalsu ben disenengi. Sing penting kowe gelem podo nulunge lan ngandani konco sing bener utowo ngandani tumindak sing keliru”

Pithek : “He’e no cil? Yowis aku ora dagel utowo gawe cerito palsu neh, sakjane aku yo kesel ngapusi sakbendino, matur nuwun yo cil aku wis mbok kandani”

Awit dino iku pithek walik’e pak Mukidi ora gawe cerito palsu eh utowo jarakan nglucu ben disenengi koncone, nanging de’e dadi seneng dungokke lan ngandani sing apik. Koncone nganti do gumun neng koncone dadi sansoyo akeh amargo de’e wis ora ngapusinan lan gelem dungokke pithek liane.

Bagi Anda yang kurang memahami cerkak bahasa Jawa di atas, intinya iakah seekor ayam yang memiliki bulu aneh dan tidak rapi selalu emlucu dan berbohong pada teman-temannya agar diterima karena ia merasa tidak percaya diri, hingga suatu hari ia merasa lelah berbohong dan mendapat nasehat dari kancil bahwa apa apa adanya jauh lebih baik, ia pun melakukannya dan justru teman-temannya semakin banyak, ia tak perlu berbohong dan mengada-ada untuk bisa diterima.

Makna dari cerkak bahasa Jawa di atas ialah kita tak perlu berbohong atau berpura-pura untuk disukai dan memiliki banyak teman, cukup menjadi pribadi yang apa adanya, toleransi, mengingatkan kebaikan, dan mau mendengarkan orang lain maka orang akan senang dan nyaman untuk dekat dengan kita. Tak perlu dibuat-buat untuk bisa diterima.

Jadi, jangan lupakan budaya kita, yuk coba cari contoh cerkak bahasa Jawa dan pahami makna di dalamnya sebagai pelajaran hidup sekaligus mencintai bahasa daerah.