Bedanya Seminar Ilmiah di Indonesia dengan di Jepang

0
1487

Akhirnya pertanyaan mengapa di Jepang penelitian topik tertentu selalu tuntas dan berakhir di produksi masal terjawab sudah. Jawabannya adalah kuatnya ikatan antar peneliti dengan topik penelitian yang sama antara perguruan tinggi dan industri. Bukan lagi bidang ilmu tapi sudah ke topik penelitian. Pertemuan membahas dan berdiskusi mengenai perkembangan penelitian terbaru dengan topik yang spesifik rutin diadakan.

Kondisi di Indonesia Pada Umumnya

Disini bukan membicarakan seminar atau workshop yang juga sering diadakan rutin di Indonesia dengan mengundang pembicara papan atas yang pada umumnya dengan maksud menarik minat agar seminarnya banyak peserta dan menarik sejumlah uang pendaftaran. Para presenter yang membawakan hasil penelitiannya hanya sebatas menyampaikan hasil dan mendapat sertifikat untuk kenaikan pangkat dan lain sebagainya. Terkadang untuk presentasi poster dengan sistem tempel poster dan tinggal. Tak jarang pula mengundang industri untuk mengisi stand pameran atau meminta bergabung dalam proposal sponsorship dengan tujuan menutupi biaya operasional baik untuk konsumsi maupun sewa tempat dan honor panitia. Gayung bersambut industri pun memanfaatkan dengan baik untuk mengeluarkan dana Corporate Responsibility nya di tiap seminarnya.

Kondisi di Jepang pada umumnya

Seminar yang dibahas adalah seminar nasional yang diadakan rutin setiap tahun. Seminarnya adalah ‘Seminar Nasional Ke-6 sacran’. Sacran adalah polisakarida baru yang ditemukan di sungai-sungai di Jepang hasil ekstraksi dari golongan algae. Peserta seminar 45 orang berasal dari berbagai universitas dan perusahaan farmasi se-Jepang. Kali ini diadakan di Tokai Universiti di pegunungan Aso-Kumamoto. Ada beberapa hal yang unik disini

1. Kebiasaan orang jepang tukar kartu nama

Disinilah ajang menyebar networking dengan berkenalan dengan peserta yang baru. Budaya yang unik, lebih jelasnya bisa dilihat di video berikut.
https://www.youtube.com/watch?v=ZHPNhCn1Cng

2. Jumlah peserta yang hadir di awal sama dengan di akhir acara

Ini yang jarang ditemukan di Indonesia. Ibaratnya kurva parabol, di awal sedikit, tengah memuncak dan akhir sudah menghilang apalagi kalo sudah dibagikan sertifikat seminarnya. Di sini semua aktif, tidak ada yang ngobrol maen HP atau laptop ga jelas, semua terfokus pada presentasinya.

3. Tidak ada sambutan dan upacara pembukaan

To the point. Itu intinya, hanya ada pembukaan dari ketua komunitas penelitinya. Hanya sekitar 5 menit dan langsung menuju ke presentasi penelitiannya.

4. Makan siang beli sendiri

Nah ini dia yang rada nyeleneh, kaget ketika mendengar bahwa makan siangnya tidak disediakan alias harus beli sendiri, walhasil gerilya lah dan akhirnya menemukan kantin kampus yang unik seperti di video ini
https://www.youtube.com/watch?v=mTbEo_uWQrQ

5. Biarpun poster tetap presentasi dan ada tanya jawab

Poster disini artiannya adalah sama dengan oral hanya bahan presentasi bentuk poster jadi waktu presentasi lebih singkat. Berikut gambarannya dalam bentuk video
https://www.youtube.com/watch?v=kabjUNHgAeM

6. Pertanyaan karena ketidaktahuan dan bersifat membangun

Di setiap pertanyaannya, baik itu dari profesor maupun peserta biasa memang karena keingin tahuan. Tak jarang disetiap pertanyaan diakhiri dengan beberapa masukan.

8. Conclusion remark

Di akhir acara ilmiah, hampir semua peserta memberikan saran dan kesan serta menyimpulkan apa yang disampaikan di acara seminarnya.

9. Biaya registrasi untuk pesta makan malam

Biaya ¥6000 atau sekitar 600 ribuan ditarik untuk semua yang hadir hanya untuk konsumi ringan alias kopi break dan makan malam.
konsumsi seminar jepang
Setelah berbicara ilmiah seharian, dari pukul 6 sampai 8 malam adalah waktunya acara non formal, waktunya ketawa ketiwi diselingi minuman beralkohol dan lokasinya pun di hotel berbintang.
https://www.youtube.com/watch?v=-LP2HKk1qtc

10. Selalu tepat waktu

Tidak pernah ngaret, juga selesai tepat waktu. Begitu pula para pembicara memenuhi aturan batas waktunya. Luar biasa untuk hal yang satu ini patut dicontoh.

Opini :



Semoga kondisi di indonesia di atas adalah hanya pengalaman lalu semata dan sekarang menjadi minoritas lagi bukan pada umumnya.