5 hal yang Membuat Seluruh Suporter The Jak dan Viking Sulit Berdamai

33338

Hampir seluruh pencinta sepakbola nasional merasa lega dengan islah nya The Jak Mania dan Viking Fans Club dengan ditandai penandatangan pernyataan damai antar kedua suporter yang diwakili masing-masing ketua umumnya di Mapolres Bogor bulan April lalu.

Namun, tak sedikit yang meragukan keampuhan dari perjanjian ini. Terbukti, kemarin terjadi kembali penyerangan baik oleh oknum The Jak maupun serangan balasan oleh oknum bobotoh. Tulisan kali ini mengulas sedikit mengenai alasan mengapa kedua suporter ini sulit berdamai.

1. Faktor sejarah

the jak vs viking

Sejarah permusuhan antara The Jak dan Viking dapat dibaca dengan lengkap di situs simamaung.com. Viking sebagai kelompok suporter Persib terbesar, resmi berdiri pada tahun 1993. Kemudian di tahun 1997 kelompok superter persija mendirikan The Jakmania yang awalnya bernama Persija Fans Club. Gesekan sering terjadi diantara keduanya, puncaknya gesekan terjadi pada tahun 2001 di kuis siapa berani yang pada waktu itu sedang naik daun.

Kuis dengan edisi admirer sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Norse berhasil melewati babak incentive dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah. Namun, suporter Viking dilaporkan luka-luka akibat dihajar suporter Persija. Mereka memukuli suporter Viking dengan berbagai macam pentungan, mulai dari pemukul baseball sampai pemukul dari besi (lengkapnya). Setelah kejadian ini beberapa kejadian lainnya sering terjadi dan lukanya membekas di para suporternya sampai saat ini.

2. Generasi ke generasi

the jak dan viking

Baik suporter The Jak maupun Viking terdiri dari berbagai kalangan umur. Dari dewasa, remaja sampai anak-anak. Orang tua yang fanatik terhadap klubnya bisa dipastikan anak-anaknya pun akan menjadi suporter sejati seperti orang tuanya. Selain itu, dalam kasus penyerangan antar suporter tak jarang para remaja bahkan anak-anak terlibat di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan permusuhan ditularkan dari generasi ke generasi berikutnya dan bertahan sampai sekarang.

3. Perang media sosial

perang sosial media

Lain dulu lain sekarang, dulu belum ada media sosial untuk berinteraksi antar suporternya, walau belum ada pembuktian bahwa media sosial berpengaruh menciptakan atau memperkeruh permusuhan tapi beberapa kasus terakhir membuat kedua belah pihak berselisih di dunia maya.

4. Atribut anti perdamaian

Kawin sama monyet

Tak dapat dipungkiri dengan kehadiran beberapa atribut yang menyulut kebencian diantaranya. Baik berupa syal maupun baju dan atribut lainnya. Celakanya masing-masing suporter merasa bangga menggunakannya. Mereka bangga karena merasa membela dan berempati terhadap rekan-rekannya yang menjadi korban penyerangan.

5. Balas dendam

Darah dibalas darah, itu yang masih tertancap di jiwa sebagian suporternya. Hal yang lumrah bagi seorang manusia yang berempati terhadap kerabat dekatnya, apalagi sesama suporter mereka sudah menganggap keluarga besar. Selain itu, balas membalas selalu terjadi, karena masing-masing pihak merasa harga dirinya sebagai suporter kedua klub terinjak-injak.

Opini :

Tidak seperti membalikan telapak tangan untuk membuat seluruh suporter The Jak dan Viking berdamai seutuhnya. Perlu dicarikan solusi yang tepat baik dari pihak suporter, manajemen klub, kepolisian, dan masyarakat.  Wahai para oknum kedua bilah pihak, sadarlah bahwa perbuatan anda hanya membawa dampak negatif tidak ada manfaatnya.

the jak dan viking
Pertanyaan selanjutnya, kapankah seluruh suporter kedua belah pihak ini memiliki jiwa besar?

ARTIKEL TERKAIT