Bermula dari Mata Kuliah Apoteker, Kini Apotek Griya Farma Miliki 22 Outlet

0
8466
apotek griya farma
apotekgriyafarma.com

Bidhuan.id – Bermula dari Mata Kuliah Apoteker, Kini Apotek Griya Farma Miliki 22 Outlet. Siapa sangka Apotek Griya Farma pada awalnya ternyata berasal dari angan seorang mahasiswa Apoteker, Wina Wulandari ketika membuat bisnis plan yang merupakan tugas mata kuliah manajemen apotek.

Dengan hanya bermodal awal 30 juta kini Apoteknya berjumlah 22 outlet tersebar di Bandung, Jabodetabek, Medan dan Semarang. Untuk menjawab rasa penasaran bidhuaners, Bidhuan berhasil mewawancarai Wina secara ekslusif untuk bidhuaners.

“Dari sejak kuliah (S-1 Farmasi .red) sudah berbisnis dengan 6 sahabat yakni Aliya, Uni, Camel, Betty, Lany dan Wenda. Mulai dari bisnis alat meracik atau praktikum, fotokopi hingga fashion. Brand nya Ghaitsa’ Kai.” kenang mantan mahasiswa Farmasi Institut Teknologi Bandung ini.

Ketujuh orang ini kemudian terus bersama-sama dalam suka dan duka ketika masa perkuliahan lalu yang pada akhirnya diberi nama Geng Ghaitsa Kai, mungkin mirip seperti geng Cinta di serial AADC yang akan hadir kembali di AADC jilid 2. [Baca : Ini Kumpulan Foto dan Video Terbaru Trailer serta Proses Shooting AADC 2]

“Bersama Ghaitsa Kai ditantang membuat business Plan apotek oleh dosen ITB untuk mata kuliah Manajemen Apotek bersama Bapak Leo. Dimulai dari membuat konsep bisnis, survey lokasi dan sewa, target pasar, membuat paket investasi dan business plan. Dari tugas kuliah inilah akhirnya muncul cita-cita untuk membuat apotek sendiri.” lanjutnya.

Setelah lulus apoteker pada tahun 2002, Wina sempat bekerja di salah satu perusahaan farmasi.

“(Saya .red) menemukan passion bahwa menyukai pekerjaan yang bertemu dengan banyak orang berbeda, senang berkomunikasi dengan orang banyak, sehingga kembali teringat mimpi untuk membuka apotek sendiri.” kata Wina yang berhenti bekerja di Industri hingga tahun 2005.

Terlebih Wina menikah dengan Andry Mardyana, seorang Apoteker ITB yang lulus tahun 2003, yang membantu membawanya mewujudkan mimpi yang sempat tertunda.

“Tahun 2005 mendirikan apotek di rumah sendiri. Lantai 1 apotek, lantai 2 rumah. Modal kerjanya waktu itu adalah 30 juta rupiah. Alhamdulillah responnya bagus. Sehingga membuat cabang di tahun 2010.” ceritanya semakin bersemangat ingin berbagi dengan para bidhuaners.

Diluar dugaannya, Apotek kedua tumbuh lebih cepat dari outlet pertama sehingga tahun 2012, membuka lagi 2 outlet. [Baca : Kisah Inspiratif Apoteker Muda Pendiri Apotek Waralaba Griya Farma]

“Tahun 2012 sudah mulai ada yang ingin kerjasama membuka apotek. Sehingga mulai membuka lagi 1 cabang milik mitra.” kata Wina sambil memperkenalkan fan page facebook Apotek Griya Farma Franchise.

Wina yang dikenal teman dekatnya, Aliya Nur Hasanah (salah seorang sahabatnya di Ghaitsa Kai) sebagai sosok paling ceriwis, berbicara apa adanya, dan mau belajar seluk beluk bidang yang digelutinya, akhirnya mencoba masuk ke dunia waralaba pada tahun 2012.

“Apotek Griya Farma lulus seleksi dari kementerian perdagangan RI untuk masuk program diklat franchise yang didampingi oleh beberapa konsultan franchise selama 1 tahun.” ujarnya

Tahun 2013 mulai resmi difranchisekan dan mulai perdana mengikuti pameran franchise. Dari sinilah awal mulanya Apotek Griya Farma tersebar bukan hanya di Kota Bandung. Kini 22 outlet tersebar di Jabodetabek, Medan dan Semarang.

“Supaya lebih banyak orang yang merasakan manfaat dan pelayanan Apotek Griya Farma. Juga menjadi jalan rezeki yang berkah bagi mitra dan karyawan.” Jelas Wina ketika ditanyakan mengapa terjun ke area waralaba.

“Bisnis apotek adalah bisnis yang banyak diminati oleh investor. Kenapa? Karena bisnis ini bisnis jangka panjang, tahan krisis, bukan bisnis musiman, pangsa pasar luas (produk obat bisa dari bayi hingga lansia), dan menariknya adalah termasuk bisnis harian, yaitu bisnis yang menghasilkan uang setiap hari.” lanjut Wina yang mulai memberikan wejangan untuk para bidhuaners.

Selain itu dengan terjun di dunia Franchise menurutnya bisa bertemu dengan karakter mitra bisnis yang berbeda-beda dan tertantang untuk mengelola Sumber Daya Manusia yang kian bertambah.

“Intinya, dalam setiap proses bisnis, pengusaha selalu berhadapan dengan banyak tantangan dan kesulitan, membutuhkan keputusan-keputusan yang cepat dan benar. Semakin besar skala bisnis perusahaan, semakin besar juga tantangannya, semakin membutuhkan kapasitas bisnis yang besar dari pemiliknya.” ceritanya sambil memperlihatkan beberapa foto outlet-outlet yang kini telah berkembang pesat sesuai rencananya.

“Untuk itu, menjadi pengusaha tangguh itu perlu terus belajar untuk meningkatkan kapasitas berbisnis sehingga dapat memecahkan setiap permasalahan bisnis dengan semakin sederhana.” ungkapnya sambil berterimakasih kepada bidhuan.id yang juga membantu menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia farmasi.

Diakhir wawancaranya Wina sedikit memiliki harapan bagi dunia farmasi saat ini agar semakin kuat dan maju. Selain itu, dia ingin banyak apoteker yang menjadi pengusaha sehingga ekonomi Indonesia makin berdaya.

Petuah bidhuan kali ini “Mimpi yang realistis adalah awal dari sebuah kesuksesan, segeralah wujudkan mimpimu sebelum orang lain mendahuluinya!”

[Baca juga: Mimpi Si Kecil Mutmainnah Anak Supir Angkot Untuk Jadi Apoteker]