Kisah Kakek Sinai yang Berjuang Hidup dengan Kamera Kesayangannya

1490
kake sinai

Satu lagi kisah inspiratif yang bisa menyentuh hati bidhuaners. Hidup di Jakarta yang keras ini dijalani oleh seorang kakek bernama Sinai Nasrul (74 tahun). Kakek ini tinggal sebatang kara di daerah Manggarai, Jakarta Selatan. Keseharian bapak ini menawarkan jasa foto kepada pengunjung Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan.

Kisah Kakek Sinai yang Berjuang Hidup dengan Kamera Kesayangannya. Seperti diungkap oleh Netizen dengan akun facebook Dian Riski Rosmayanti.

kake sinai

Suatu malam dia menawarkan ku untuk mau di foto dengan kamera Canon SLR tua yang didapatnya dari seorang kerabat. Katanya foto itu akan dicetak dengan ukuran 12R dengan harga Rp 20 ribu per lembar. Dia menjanjikan foto itu baru dapat diambil lima hari kemudian, dan mengaku akan memberikannya padaku di tempat kami bertemu pertama kali.

Tampak di tangannya ada lebih dari 10 foto, dia mengaku itu foto pelanggannya yang tak kunjung diambil padahal telah membayar uang jasa foto. Namun dibelakang punggungnya ada juga sebuah tas berukuran besar yang berisi 2000 foto yang belum diambil juga oleh pelanggannya. ‘

Setiap hari dia menjajakan jasa foto itu kepada pengunjung Pasar Festival. Tak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata, takut ditipu, dan mengacuhkannya serta menolak secara halus untuk di foto. Padahal pria kelahiran Solok, Padang, Sumatra Barat ini hanya mengandalkan kamera itu untuk menyambung hidup.

Kepadaku dia bercerita, dalam sehari belum tentu ada yang mau di foto olehnya. Terkadang hanya ada satu pelanggan, dan paling banyak empat pelanggan yang mau membeli jasa fotonya. Hatiku pun iba memandang kakek ini bertahan hidup sendiri di kerasnya ibu kota, ditengah kemajuan teknologi yang mungkin tidak disadarinya.

“Tubuh sudah tua, tapi otak tidak boleh mati. Harus terus berjalan mencari rejeki untuk hidup,” ujar Kakek Sinai dengan logat minang yang sangat kental.

Tapi dia tidak memaksaku untuk menggunakan jasa fotonya. Sepanjang malam itu, dia hanya bercerita tentang pengalamannya di tangkap penjajah yang saat itu masih menguasai tanah Minang. Dia mengaku pernah ditangkap dan dipenjara, kemudian disidang dan diasingkan ke Jakarta.

Benakku berfikir, mungkin tak banyak orang yang mau ngobrol dengan kakek ini. Dia sebenarnya suka bercerita dan bertukar pengalaman, tapi mungkin tak ada yang mau mendengar. Kepadaku dia bercerita dengan antusias, sering kali dia tertawa ketika ku ajak bergurau.

Namun tahukah kalian, dia tidak pernah meminta uang kepada orang secara cuma-cuma. Baginya mengemis adalah pekerjan yang sangat hina, maka tertahanlah dia hidup dengan menjadi tukang foto.

Tak lama dia pamit untuk pulang, sebab kakinya yang tak lagi mampu berjalan jauh telah sakit dan lelah. Sekali ku meminta untuk foto bersama, mengejutkan dia sangat senang dan merasa foto yang diambil dari kamera telepon genggam temanku sangat bagus.

“Besok saya kesini lagi, mau cari yang mau di foto lagi,” kata dia lirih.

Semoga didunia ini masih ada yang memiliki hati, mau sedikitnya membantu kakek ini. Jika bertemu dan ditawari untuk di foto janganlah ditolak dan temuilah bapak ini di tempat dan waktu yang dijanjikan, karena dia selalu menepati janji dan membawa foto-foto pelanggannya untuk diberikan. Dia tak mau mengingkari janji, sebab itu foto pelanggannya selalui di bawa karena takut ada yang menagih.



Tulisan ini telah dishare ribuan kali dan menjadi viral di media facebook. Seperti halnya cerita kakek ojek pangkalan beberapa waktu lalu yang menjadi terbantu dalam mengais rezekinya setelah diposting pelanggannya. Mungkin hal ini bisa terjadi pada kakek Sinai kelak.