Pak Jokowi, Kepada siapa lagi rakyat ratusan juta ini mengadu?

1317

Berawal dari pencalonan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri yang selanjutnya dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK. Kemudian akhir-akhir ini kembali di hebohkan dengan berita penangkapan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto karena kasus keterangan palsu di persidangan di MK, Sehingga ramai kembali membuka kisah baru KPK vs Polri jilid 2. Ditambah dengan reaksi Presiden Jokowi sebagai penengah kedua belah pihak. Berikut adalah jeritan dari salah satu warga negara Indonesia yang akhirnya bertanya pada dirinya : Kepada siapa lagi rakyat ratusan juta ini mengadu?

@driechost Beliau udah lari #WhereAreYouJokowi pic.twitter.com/JOZCE7Vlx2

Teori kekuasaan yang pernah saya baca sekilas adalah untuk dipertahankan, apapun taruhannya. Haus kekuasaan adalah obsesi sebagian orang yang sedikit memiliki sensor malu.

Dengan kekuasaan, otomatis dirinya merasa “lebih” dibanding yang lain, bertabur sanjungan dan fasilitas tingkat dewa. kekuasaan menuntut harus selalu dihormati, harus selalu diperhatikan, harus dituruti, harus diamini. Benar dan salah dibiaskan menjadi opini, dan propaganda alat manjur mengatur persepsi publik.

Yang lebih sadis lagi, kekuasaan berhak menentukan nasib orang, golongan dan sistem bergerak seperti apa yang diinginkan sang penguasa. Sekecil apapun hambatan, ketidaksetujuan, dan potensi penolakan… bungkam dan habisi !!!

Kekuasaan, demokrasi, dan politik adalah wahana mengasikkan bagi sebagian elit suatu negeri, termasuk Indonesia. Kegaduhan, saling jual beli taktik, dan siasat, adalah sebagian kecil keriangan mereka mengisi hari-hari.

Tanpa sadar, penggemar kekuasaan akhirnya membawa-bawa rakyat yang sejatinya kaum yang “dikuasai”, turut bereuforia merayakan ketertindasannya. Dan beruntung, sebagian segera sadar, namun kebanyakan masih malas memasang kembali nalar yang tersisa.

Meskipun hal ini telah berlangsung lama bahkan sejak teori kekuasaan digulirkan, namun praktek-praktek seperti ini, di era media sosial bebas seperti sekarang, menjadi tampak sangat menelanjangi mereka semua. Jadi, sungguh getir hati ini membaca komentar-komentar rakyat di sosmed yang justru merasa malu melihat bagaimana porak porandanya tatanan bernegara, mulai dari DPR yang menjadi tidak jelas akibat tandingan2, Pemerintah yang banyak janji tapi jauh dari ditepati, POLRI dan kejaksaan yang berebut balas budi, dan kini KPK yang hampir dihabisi.

Saya adalah rakyat yang terhenyak, menyaksikan begitu rapuhnya tatanan negeri ini. Bagaimana mungkin tontonan perebutan kekuasaan bisa disajikan begitu sangat vulgar. Aroma dendam dan permusuhan seakan menjadi tabiat lumrah yang sangat naif untuk ditutup-tutupi. Dan akhirnya, pertanyaan besarnya adalah: kepada siapa lagi rakyat ratusan juta ini mengadu?



Dari Seorang Rakyat Jelata, @Sirwied