counter hit make

Pro dan Kontra sistem SKP

Tagged: ,

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  bidhuan 1 year, 3 months ago.

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #39526

    bidhuan
    Keymaster

    Banyak komentar yang pada umumnya menyarankan untuk meninjau kembali sistem SKP untuk sertifikasi kompetensi Apoteker saat ini, tetapi tidak sedikit yang mendukung dengan sistem SKP terutama informasi dari panduan yang sedang di godog adalah dengan hanya 12 SKP selama 5 tahun untuk pembelajaran, dan itu pula bisa dilakukan tanpa mengikuti seminar yang memberatkan dalam sisi biaya.

    Disisi lain, sistem CPD online telah dibangun namun saat ini belum maksimal, berikut adalah beberapa komentar dari rekan sejawat

    “Saya juga heran pak..dari tahun 2013 lalu saya kaget setelah mempelajari syarat perpanjangan re kompetensi itu dengan syarat skp yg begitu untuk mendapatkan syarat itu belum lagi kegiatannya di luar dari provinsi domisili kita…sangat berat dibanding upah /gaji yang kita dapat ….gaji itu berkisar 2, 5 sampai 3, 5 jt mana cukup untuk biaya kontrakan, makan, transport…dan perlengkapan lain seperti mandi dan makeup (cewek)…belum kebutuhan lain…kita ini di banding dengan teman sejawat dari dokter sangat jauh…setiap hari dokter praktek bisa dapatkan uang sedangkan kita setiap hari ke apotek/ tempat praktek juga tetap saja akhir bulan baru dapat uang/ gaji….jadi mohon sekiranya kalau memang bisa perhatikan lah anggota itu..(apoteker). Di papua barat kemarin saya sempat di terima di salah satu apotek dengan total gaji hampir 3 jt setelah saya timbang dengan kebutuhan hidup di sana saya akhirnya pulang ke asal sya…jadi mohon di tinjau lagi aturannya..saya ragu dan merasa kalau nanti nya bakal ada apoteker yg tidak ikut kompetensi lagi.karna syarat skp tdk tercapai. Terimakasih dengan adanya posting ini sangat bagus bagi teman apoteker”

    “Akhir Tahun 2015 Istri akan berhenti menjadi APA karena SKP tidak mencukupi utuk perpanjangan SIPA. walaupun kuliah APOTEKER sekian tahun SIA-SIA sy mendukung keputusan istri. Mending Guru yang jelas sertifikasi nya dan seminar&workshopnya memang bener2 berguna. Apoterker Gak Jelas ….”

    “Saya apoteker di puskesmas.
    Selama 3 tahun terakhir, saya tidak menggunakan SIPA saya d puskesmas karena regulasi d daerah saya belum mewajibkan.
    Namun bagi rekan2 saya yg aturan daerahnya sudah mewajibkan mereka untuk menggunakan SIPA nya d pukesmas berkenaan untuk pengadaan logistik perbekalan farmasi sehingga otomatis meraka harus mencabut SIPA nya di apotek tempat mereka berpraktik sebelumnya.
    Dalam hal ini, apoteker yg bersangkutan mengalami banyak tambahan beban kerja yg tidak diimbangi meningkatnya pendapatan, bahkan berkurang.
    1.Tidak lagi memperoleh gaji dr tempat praktek dimana SIPA sebelumnya digunakan.
    2. Beban kerja d puskesmas meningkat namun tidak ada penambahan insentif.
    3. Selama ini biaya yg dikeluarkan untuk seminar uji kompetensi, resertifikasi bisa saja dianggarkan dari gaji yg diperoleh d apotek tempat SIPA digunakan. Namun jika SIPA digunakan d puskesmas, pastinya untuk biaya2 tersebut menggunakan biaya pribadi, tidak mungkin menuntut puskesmas untuk mengganti. Padahal itu untuk kepentingan puskesmas juga kan.

    Bukan tidak ingin mengembangkan profesi apoteker, namun jika begini.. boro2 nabung.. adanya malah nombok..”

    “Sy telah mengikuti ujian kompetensi pd gelombang terakhir di th 2014. Terus terang sy enggan mengikuti pd gelombang sebelumnya, karena sy tanya pada teman-2 sesama Apoteker yang telah mengikuti ujian kompetensi, ada pengaruhnya/manfaatnya di tempat kerja setelah mengikuti ujian kompetensi .Semua menjawab : TIDAK ada pengaruh apa2. Hanya formalitas saja. Ternyata Jawaban itu BENAR, setelah sy buktikan TIDAK pengaruh apa-2 terhadap tempat kerja, apalagi yang kerja di industri. Karena Perusahaan tidak mempermasalahkan. Justru kalau Apoteker tersebut sering mengikuti seminar (se-mata-2 untuk mendapat SKP), manajemen Perusahaan merasa terganggu karena jam kerja dipakai untuk pergi keluar. Tidak perlu ada SKP, Perusahaan bisa menerima kemampuan Apoteker tersebut. Jangan mempersulit sesama Apoteker. Apoteker makan Apoteker (seperti iklan Jeruk makan Jeruk). Demikian uneg-2 saya.”

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.

Follow us

4,619FansLike
20FollowersFollow
1,943FollowersFollow

Baca juga

Terbaru