counter hit make

Pendapat Rekan Sejawat Terhadap Alasan DR Sampurno

Home Forums Forum Komunitas Apoteker Indonesia Sistem Kompetensi Apoteker Pendapat Rekan Sejawat Terhadap Alasan DR Sampurno

Tagged: ,

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  bidhuan 11 months, 4 weeks ago.

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #39522

    bidhuan
    Keymaster

    DR Sampurno memberikan alasan mengapa harus memberikan kritik kepada IAI di postingan berikut ini http://bidhuan.id/2015/05/18/ini-alasan-dr-sampurno-kritik-iai-tentang-sistem-kompetensi-apoteker/ dan berikut adalah komentar dari rekan sejawat

    “Alhamdulillah akhirnya ada yg memperhatikan nasib apoteker.pdhal sudah sempat pesimis sm kerjaannya sbg penanggung jawab apotik dgn gaji secuil.kepikiran u/ resign dan kerja di bank aja,yg gajinya lumayan dgn waktu kerja hampir sama dgn apoteker standby.semoga IAI bisa menghidupi apoteker,bkn mencari penghidupan di IAI.”
    Dari : hadniindah17@yahoo.co.id

    “Terimakasih bapk DR. Sampurno A Chaliq, akhirnya suara kami dr daerah terpencil tersalurkan.. setiap kali keluhan kami tdk lain dan tidak bukan, cm ttg biaya seminar… gji 1,5juta.. seminar 2 kali berturut-turut dlm sebulan masing-masingx 350ribu berarti sisa gaji 800ribu..lalu bgmna kami bisa menghidupi kluarga kmi.. mmpi kami mghidupi kluarga ga prnah trcpai..
    orgtua ngutang buat bayar kuliah…sehabis kuliah bukannya kerja buat nutupin smuax eh malah nambah hutang buat seminar…ya Tuhan….
    sedih skli nasib apotkr…
    kali ini memutuskan utk tdk mngikuti sminar wlaupun sngt bresiko tuk masa depan..yah mau gmna,, uangx ga cukup…”
    Dari : briavhe@yahoo.com

    “Suka duka kerja di apotek. Apalagi di daerah terpencil dimana masih banyak praktek dispensing. Masyarakat maunya uanga 30 ribu itu sudah jasa periksa dokter plus daoat obat. Padahal harga obat dah semakin merangkak naik. Kebanyakan daya beli masyarakat juga menurun. Akhirnya kita mengalah. Harga tidak obat tidak dinaikkan. Hanya presentase keuntungan yang diturunkan dengan harga jual yang tetap. Itu saja kunjungan masyarakat ke apotek semakin menurun juga karena ruang gerak apotek semakin sempit. Tiap 300 meter sudah ada apotek lain. Akhirnya apoteker yang ngalah. Gaji selama lima tahun tidak naik naik. Kalau untuk bujangan mungkin cukup. Tapi ingat.kodratnya manusia itu berkeluarga. Bayangkan seorang apoteker pria sebagai kepala keluarga dengan dua anak gaji cuma 1.5 juta tanpa tunjangan kesehatan. Tanpa fasilitas pensiun. Itu saja agar ijazahnya ‘hidup” masih harus ikut seminar dengan harga ratusan ribu hanya untuk mengejar 150 skp. Kalau tidak… ijazah apoteker nggak guna. Nggak guna dulu kuliah s1 4 tahun plus profesi 1 tahun. Berjibaku dengan laporan. Rumus kimia dan praktikum. Kok kayaknya egois banget sih.. kasian orang tua yang nguliahin kita dulu kalo gini caranya. Oh. Ada cara kok. Gak usah jadi apoteker. Cari usaha lain aja. Gusti allah ora sare. Ayam aja dikasih rejeki. Virus aja dikasih nyawa kok. Masa kita manusia nggak ada akal.”
    Dari : nutrisayuti@gmail.com

    “Saya setuju dan mendukung Pak Sampurno. Terima kasih Pak
    Usul : Gunakan e-learning (berisi upadte di bidang kefarmasaian dan kesehatan), ada soal, ada e-sertifikat, ada iuran anggota (untuk pemeliharaan website atau e-learningnya) sertifikat dapat di print dan ada jumlah SKPnya. Mudah2an dengan ini tidak memberatkan”
    Dari : antonwijayadpk@gmail.com

    “MONGGO DI DUKUNG KALIAN KULO PANJENENGAN SEDOYO..NDEREK MATUR MAWON ‘MIN’..MAJU TERUS RENCANG2 SEDOYO…KULO NGGEH SETUJU KALEH PAK SAM..MESKIPUN SKP KULO MPUN CEKAP..MERDEKA..”
    Dari : apur84@gmail.com

    “Terima kasih Pak Sampurno atas supportnya. saya pribadi merasa kecewa dengan IAI yangmana sebuah organisasi yang seharusnya memberikan kontribusi kepada anggotanya justru sebaliknya membuat anggota susah dengan segala peraturan yang dibuat.

    Untuk IAI tolong dengarkan kami, tolong diperbaiki peraturan-peraturannya. Peraturan dibuat bukan untuk menyusahkan tetapi untuk mempermudah anggota….”
    Dari : hadi_05.1983@yahoo.com

    “Sy telah mengikuti ujian kompetensi pd gelombang terakhir di th 2014. Terus terang sy enggan mengikuti pd gelombang sebelumnya, karena sy tanya pada teman-2 sesama Apoteker yang telah mengikuti ujian kompetensi, ada pengaruhnya/manfaatnya di tempat kerja setelah mengikuti ujian kompetensi .Semua menjawab : TIDAK ada pengaruh apa2. Hanya formalitas saja. Ternyata Jawaban itu BENAR, setelah sy buktikan TIDAK pengaruh apa-2 terhadap tempat kerja, apalagi yang kerja di industri. Karena Perusahaan tidak mempermasalahkan. Justru kalau Apoteker tersebut sering mengikuti seminar (se-mata-2 untuk mendapat SKP), manajemen Perusahaan merasa terganggu karena jam kerja dipakai untuk pergi keluar. Tidak perlu ada SKP, Perusahaan bisa menerima kemampuan Apoteker tersebut. Jangan mempersulit sesama Apoteker. Apoteker makan Apoteker (seperti iklan Jeruk makan Jeruk). Demikian uneg-2 saya.”
    Dari : rini_d62@yahoo.com

    “Sudah menjadi rahasia umum untuk hal-hal seperti ini. Peraturan gak jelas, ribet, memberatkan anggota dan gak ada kepastian yang bisa buat anggota sejahtera. Dagang makanan pecel saja lebih banyak pemasukannya dari pada kerja di apotek.”
    Dari : denny.x.rachman@gmail.com

    “sudah sangat sering pengurus mempersulit anggotanya..seperti itulah yang saya hadapi di daerah perantauan saya saat ini yang mana pengurusnya seperti tdk mempedulikan kesulitan anggotanya terutama dalam hal perijinan buka apotek”
    Dari : zqa_cute@yahoo.com

    “Saya sanat setuju dengan pendapat bapak, kenapa kita tidak mencontoh organisasi profesi lainnya yg sangat mendukung penuh dan melindungi anggotanya. Industri farmasi malah cenderung memberikan sponsor kpd tenaga kesehatan lainnya utk membiayai seminar mereka yg bahkam harganya jutaan, bahkan biaya liburan ke luar negeri, kenapa para apoteker yang di apotek swasta tdk bisa seperti itu? Medical reprensentatif cenderung hanya menawarkan obat tanpa pernah tau penjelasan secara detail obat yg mereka jual, dan hanya mencari bagian pengadaan bukan mencari apotekernya di apotek (terutama apotek swasta di daetah terpencil). Apoteker di apotek hanya dianggap sebagai pajangan nama dan didominasi oleh PSA, terikat wktu kontrak dengan PSA, tanpa diberikan cuti tahunan, tunjangan kesehatan, persen omset. Dan sy sendiri sdh 2th lebih blm mendapat kenaikan gaji pokok, pdhal bensin saja sdj naik 3x, UMP jg sdh naik. Bagaimana caranya apoteker haris bisa jual mahal kepada PSA, bukan hanya mementingkan syarat kompetensi tp lebih kpd soft skill dan jiwa enterpreuner supaya hanua apotekerlah yg berhak membuka dan menjalankan bisnis apotek, bukan pihak lain. Terima kasih telah menampung aspirasi kami sebagai apoteker di daerah”
    Dari : trizna_dani@ymail.com

    “Setuju…
    Tambahan :
    Mestimya permenkes tentang izin apotek diperbaharui. HANYA APOTEKER YANG BERHAK BUKA APOTEK, bukan pengusaha…
    Dengan demikian Apoteker tidak dialas oleh pemilik sarana apotek….”
    Dari : fachrizal_aptsmi@yahoo.co.id

    “Terimakasih Pak Sampurno atas pencerahannya terhadap PP IAI Semoga mereka bisa mengerti dan peduli. Saya mikir” juga tuk putar haluan ninggalin Profesi Apoteket karena bathin saya meringis Melihat kondisi saat ini…,”
    Dari : mrpapakembar@gmail.com

    “Luar biasa pencerahannya.
    Melihat hal demikian justru akan membuat para apoteker meninggalkan hakikatnya sebagai seorang apoteker. Jadi jangan berharap profesi apoteker akan semakin baik & semakin dikenal. Akan banyak para apoteker enggan berpraktek karena embel2 harus memenuhi SKP2-an.
    Para lulusan apoteker akan lebih memilih jalur yang lain, yang tidak perlu SKP dr IAI. Justru akan semakin banyak yang akan ingkar janji/sumpah no 1, karena tidak ingin ribet dengan urus2 SKP.
    Blm tentu yg punya SKP banyak memiliki tingkat kompetensi yang lebih baik. Yang ada ad/ yang punya duit banyak u/ membeli semua jenis tiket seminar yang akan punya banyak SKP, pdhl blm tentu hslnya bagus.
    Mudah2an ini bukan lahan baru untuk mencari sstu dgn dalih kompetensi.
    Slma brtahun2 para apoteker bisa berpraktek dengan baik tanpa SKP, tp toch mrka bs melayani dgn baik.
    Kita kuliah bertahun-tahun demi ilmu & secarik kertas bernama ijasah, tp ternyata tidak berhenti di situ. Masih harus diganjar dengan yg namanya kompetensi2 lewat SKP. Nasib anak farmasi yang dulu bermimpi rindu melayani masyarakat, bisa kandas karena tidak punya sejumlah SKP yang dipersyaratkan.”
    Dari : beautiful.mind9474u@gmail.com

    “Trimakasih pak Sam atas pencerahannya mudah2an rekan qt IAI yg pusat bisa mempertimbangkan nasib kami yg di daerah.rasanya sangat sulit mengelola gaji yg tdk seberapa dgn beragam seminar ber skp dan membayar sekolah anak anak.Semangat pengabdian ilmu kemasyarakat jadi bertambah.Hidup IAI”
    Dari : idamardiana@gmaik.com

    “OOH, SUNGGUH MALANG NASIB MU, APOTEKER!!!

    Terimakasih Bpk. DR Sampurno, thank you, ngatur nuhun Atas kritikannya yang menyangkut nasib Apoteker. Memang yang dirasakan saya sebagai apoteker harus belajar agar lulus menjadi Apoteker . Setelah lulus mendapat gelar apoteker dan sebagai penanggung jawab apotik di Jakarta dengan gaji Rp. 1.500.000 perbulan dan menghidupi 2 anak yang juga perlu biaya sekolah. Harus memperpanjang uji kompetensi di PD IAI dengan persyaratan harus mempunyai 150 skp yang didapatkan dengan mengikuti seminar-seminar yang diselenggarakan oleh IAI atau universitas. Sedangkan untuk mendapatkan 10 skp saja saya harus mengeluarkan biaya seminar minimal Rp. 350.000 sampai 1 juta dan hanya berlaku 5 tahun. Bayangkan jika 150 skp berarti biaya yang dikeluarkan 15 x Rp. 350.000 = Rp. 5.250.000 belum termasuk harus membayar iuran IAI Rp. 150.000 per tahun jadi untuk 5 tahun = 5 x Rp. 150.000 = Rp. 750.000. Belum termasuk bayar Surat Rekomendasi Apotik, belum termasuk fotocopy2, transport dll. Berarti Ijasah Apoteker saya Tidak Berlaku kalau Tidak Mempunyai Sertifikat Uji Kompetensi Yang Masih Berlaku, Sertifikat Seminar sebanyak 150 skp (masa berlaku 5 tahun), Sertifikat Pengabdian (masa berlaku 5 tahun), Surat Rekomendasi Apotik (masa berlaku 1 tahun), STRA (masa berlaku 5 tahun) dll. Ditambah harus membuat laporan PMR (Patient Medication Record), laporan data Tilik Skrining Resep (DTSR), nota Informed Consent, Daftar hadir selama 5 tahun.
    Padahal dengan mengikuti seminar-seminar, pengetahuan saya tidak bertambah bahkan banyak sekali seminar yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, namun yang saya perhatikan hanya mengejar SKP!!!!
    Apoteker dibandingkan dengan sarjana lainnya dengan gaji 5 juta sampai puluhan juta tidak harus ribet-ribet ngurus surat macam-macam dan biaya macam-macam pontang-panting mengikuti seminar. Sungguh sedih, malang sekali nasib Apoteker yang diperas oleh sesama Apoteker (sejawatnya). Benar sekali kata pepatah “Apoteker Makan Apoteker”.
    Ditambah lagi apotik harus memasang papan nama dengan tulisan PRAKTIK APOTEKER dengan Hari dan Jam Praktik sedangkan Surat Izin Apotik Tidak Perlu Dicantumkan??????
    sedangkan apotekernya harus berburu Sertifikat Seminar (sebanyak 150 skp) dapat memperpanjang Uji Kompetensi, sebagai persyaratan untuk membuat SIPA (Surat Izin Pengelola Apotik) atau SIK (Surat Izin Kerja) untuk Apoteker yang menjadi Penanggung Jawab di Perusahaan.
    Apakah peraturan ini sengaja dibuat supaya IAI terlihat lebih keren dan lebih hebat dibandingkan dengan IDI, Ikatan Accounting Indonesia, Ikatan Arsitek Indonesia dll.
    SARAN : TOLONG DITINJAU KEMBALI PERATURAN YANG DIBUAT OLEH IKATAN APOTEKER INDONESIA SUPAYA LEBIH MEMPERHATIKAN NASIB SEJAWATNYA BUKAN MEMAKAN SEJAWAT ATAU MEMERAS SEJAWAT!!! JANGAN AJI MUMPUNG!!!! TAPI KASIHANILAH SEJAWAT !!!!!!

    Terimakasih,
    Livina”
    Dari : livina1213@gmail.com

    “Semoga IAI lebih bijak lagi dalam membuat peraturan, apoteker sekarang dikejar2 SKP terus, dengan biaya yg selangit….”
    Dari : luzie_1082@yahoo.com

    “Why this keep going around and around? I remember once I mentioned this in a seminar: “Waktu saya kuliah hal ini sudah dibahas, sekarang (waktu itu) saya menjadi dosen…hal ini juga masih menjadi isu genting”. And even now, these things still become big issues. All I’m saying is: “If ‘Apoteker’ is considered more as a job rather than a ‘profession’ I believe this issue will be far from being solved. Take a look at lawyers or doctors; they are considered more as professions rather than just jobs…thus they can determine their own practices and rewards….no practices, no services, no rewards…..so I think it’s not about money essentially….but more about the system of practices built by pharmacists themselves….and of course competencies are crucial factors…..what would happen if pharmacists do not have the required competencies….so pharmacists should determine their own lives and futures; do not depend on others (esp. businessmen who know nothing about the meaning of being a profession and only care about money and profit). BANGKIT APOTEKER dan TENTUKAN MASA DEPAN dan PELAYANANANMU demi ORANG BANYAK …REWARD WILL CERTAINLY FOLLOW. GOD BLESS ‘APOTEKER’. About UMR…do we think Apoteker should get paid based on UMR/UMK? Wow….certainly not, it’s a profession, and more than than…apoteker is not a ‘buruh’. I’ve been wondering whether there are apotekers who think it that way. Can we imagine if let’s say doctors and lawyers get paid based on UMR/UMK criteria?!”
    Dari : edi.jsantoso@live.com

    “setuju pak sampurna ,,,”
    Dari : bsantoso.apt@gmail.com

    “Alhamdulillah ada yang mengerti keluh kesah apoteker. Gaji apoteker yang minim masih harus dibebani SKP yang begitu banyak, belum lagi harus terbelenggu dengan tingkah lagu PSA yang hanya mengejar untung. Sudah kuliah susah jadi apoteker masih harus susah2 mengumpulkan SKP. Kita apoteker juga ingin hidup bahagia bisa menyekolahkan anak setinggi mungkin, bisa merasakan seperti tenaga kesehatan lain bisa praktek dimana – mana tidak terbatas dan terbelenggu dengan ulah PSA yang tidak bertanggung jawab.”
    Dari : apotek.iqbal@gmail.com
    Top
    Haryanto
    Posts: 2
    Joined: Thu Aug 06, 2015 2:55 am
    Location: Kalimantan
    Contact: Contact Haryanto
    Re: Pendapat Rekan Sejawat Terhadap Alasan DR Sampurno
    Postby Haryanto » Thu Aug 06, 2015 3:18 am

    Terima kasi atas kritikan Bapak DR. Sampurno.. dengan kritikan tersebut semoga pengurus di pusat bisa maengkaji nasib teman2 sejawat didaerah2 terpencil seperti kami (Kalimatan Timur) Perjalanan Jauh dan jelek untuk jaringan komunikasi masih sulit dan terima kasih jg lg karena masih ada bapak yang mau memperhatikan nasib kami didaerah, tetap itu hanya krikan yang bisa kami baca atau dengar bukan kenyataan yang kami alami…untuk memperoleh SKP itu sangat membutuhkan dana Besar dan sangat menyita waktu … contoh untuk memperoleh 2-4 skp saja kami harus mengeluarkan dana sekitar 5 keatas…dan alasan saya ikut tergabung disini sebenarnya uneg-uneg saya ini sudah lama ingin saya sampaikan walaupun pernah saya sampaikan di web IAI tapi siapa saya yang berstatus sbg Apoteker??? dan hampir setiap pertemuan Apoteker yang kami lakukan itu ada perbincangan masalah SKP…ini nasib saya..buakan saya sesali tetpi ini takdir saya kuliah di Farmasi dan menjadi Apoteker ..namun seandainya dulu saya mengetahui serumit itu Persyaratan Apoteker mungkin saya sekolah jurusan lain yang Ijazah saya bisa digunakan bekerja tanpa menggunakan SKP…menurut saya dgn adanya SKP Ijazah saya tidak ada gunanya krn knp kalau kita tdk memenuhi jumlah SKP yang ditentukan pasti tdk bisa bekerja menggunakan Ijazah saya…kasihan ke2 orang tua saya telah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai saya…terakhir,,,, saya mohon maaf bila saya sedikit curhat bukan berarti saya meremehkan pengrus yang ada dipusat kami hanya minta lebih diperhatikan dgn melihat kondisi didaerah2…tambahan sedikit lagi mengenai koment. bsantos.apt itu sangat benar. Terimakasih… wassalam

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.

Follow us

4,506FansLike
20FollowersFollow
1,953FollowersFollow

Baca juga

Terbaru