counter hit make

Jawaban cerdas tentang Polemik SKP

Home Forums Forum Komunitas Apoteker Indonesia Sistem Kompetensi Apoteker Jawaban cerdas tentang Polemik SKP

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  bidhuan 1 year, 1 month ago.

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #39519

    bidhuan
    Keymaster

    Dari postingan http://bidhuan.id/2015/06/03/inilah-jawaban-cerdas-tentang-polemik-sistem-kompetensi-apoteker/
    berikut adalah 6 pertanyaan yang dijawan dengan cerdas oleh TS Teguh

    1. Mengapa Apoteker harus mengumpulkan SKP? Mengapa organisasi profesi apoteker yakni Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) pekerjaannya hanya mempersulit anggotanya?

    “Amanat PP 51/2009 pasal 37 adalah setiap apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian harus memiliki sertifikat kompetensi profesi, sertifikat berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang melalui uji kompetensi. Serifikat kompetensi merupakan syarat untuk memperoleh STRA (Pasal 40 PP 51/2009 dan pasal 7 PMK 889/2011). Pasal 11 PMK 889/2011 “Uji kompetensi dilakukan oleh organisasi profesi melalui pembobotan Satuan Kredit Profesi (SKP)”
    Jadi jelas ya bahwa uji kompetensi, sertifikat kompetensi dan SKP bukan akal2an IAI tapi merupakan perintah peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.

    2. Jumlah 150 SKP sangatlah memberatkan, mahal dan merepotkan, apalagi untuk Apoteker di daerah luar pulau Jawa yang tidak ada seminar. Tidak mungkin kami bisa meraih 150 SKP? IAI tidak respek dengan anggotanya, pekerjaannya hanya mencari untung dari anggotanya

    TS Apoteker yg lg galau janganlah mudah terbawa emosi dan hasutan. Akan saya coba jelaskan RAHASIA ABAD INI “CARA MEMPEROLEH 150 SKP FULL TANPA SEMINAR & TANPA BIAYA”. Caranya:
    Untuk mengajukan resertifikasi, apoteker harus memenuhi 150 SKP selama 5 tahun dengan ketentuan sbb:
    1. 60-75 SKP dari Praktek (wajib)
    2. 60-75 SKP dari pembelajaran (wajib)
    3. 7,5-22,5 dari pengabdian masyarakat (wajib)
    4. Publikasi ilmiah di bidang farmasi, max 37,5 SKP (tambahan)
    5. Pengembangan ilmu & pendidikan, max 37,5 SKP (tambahan)

    Di dalam blognya hanya menjelaskan hal yang wajib saja

    1. Cara mendapatkan SKP Praktek:
    Wajib praktek minimal 2000 jam/5 tahun = 400 jam/tahun = 34 jam/bulan = 1,5jam/hari dengan ini saja anda sudah dapat 30 SKP, jika anda punya kelebihan jam akan dihitung 100jam setara dg 1 SKP (max. 20 SKP). Jadi dengan praktek selama 4000 jam, anda dapat 50 SKP. Namun, pengertian ini tidak dapat diartikan bahwa apoteker cukup hanya praktek selama 4000 jam saja

    Disini Apoteker dengan mudahnya akan mendapat 50 SKP

    Bagaimana dengan sisa 10-25 SKP ? Caranya:
    a. Melakukan monitoring dan pelaporan ESO = 2 SKP/kasus. Jika 1 tahun 1 kasus maka anda sudah dapat 10 SKP lagi,
    b. Menjadi pendamping minum obat pasien secara paripurna = 2 SKP/pasien/kasus. Jika 1 tahun 1 kasus maka anda sudah dapat 10 SKP lagi,
    c. Mengedukasi kelompok pasien (min. 10 orang/pertemuan) = 3SKP/pertemuan. Jadi anda bisa bikin kelas untuk pasien (misal kelas DM, asam urat, panu dll). Jika anda punya 1 kelas saja dan 1 tahun sekali saja maka anda sudah dapat 15 SKP,
    d. Terlibat dalam kelompok kerja (pokja) kefarmasian = 2 SKP/SK (surat keputusan)
    e. Melakukan penjaminan mutu seperti SPO, catatan, rekaman, form-form yang menunjang pekerjaan farmasi = max 5 SKP/5 tahun
    f. Membuat brosur/leaflet = max 5 SKP/5 tahun.

    2. Cara mendapatkan SKP Pembelajaran:
    a. Untuk seminar dan sejenisnya bisa dikesampingkan dengan alasan berbayar
    b. Melakukan tinjauan kasus = 2 SKP. Jadi kalo 1 tahun 1 kasus, anda sudah dapat 10 SKP pembelajaran. Lalu bagaimana dengan sisa 50-65 SKP lagi?
    c. Kajian “peer review” (min. 3 apoteker) = 3 SKP utk penyaji dan 2 SKP utk pendengan. Jadi kalo anda 1 tahun sekali menjadi penyaji dan pendengar, maka anda sudah dapat 25 SKP.
    d. Diskusi kefarmasian (min. 5 apoteker) = 3 SKP utk penyaji dan 2 SKP utk pendengan. Jadi jika anda aktif ikut pertemuan IAI dan ada diskusi/materi pembelajaran (mirip presentasi ilmiah/seminarlah) dilakukan 3 bulan sekali secara rutin maka dalam 1 tahun minimal dapat 8 SKP, 5 tahun 40 SKP.
    e. Bagi anda yg berhasil menyelesaikan studi lanjut di bidang farmasi, anda dapat SKP yang besar (S2 = 50 SKP, S3 = 75 SKP)

    3. Cara mendapatkan SKP pengabdian masyarakat:
    a. Penyuluhan tentang obat/OT/narkoba/AIDS/TB/malaria dll = 3 SKP/kegiatan (bobot SKP per 2 jam)
    b. Memahamkan tentang distribusi/penyimpanan obat kepada kelompok masyarakat atau tenaga kesehatan lain atau fasilitas pelayanan kesehatan lain = 3 SKP/kegiatan (bobot SKP per 2 jam)
    c. Pengobatan massal = 2 SKP/kegiatan (8 jam)
    d. Pembinaan posyandu/lansia = 2 SKP/kegiatan (bobot SKP per 2 jam)
    e. Menjadi pengurus aktif IAI atau himpunan seminat = 5 SKP/tahun

    3. Merepotkan, susah dan berat untuk mendapatkan 150 SKP

    Namanya juga kompetensi. Kalo masih ada yang merasa susah dan berat, pertanyaan saya “ Yakin anda apoteker yang berkompeten? Bener anda yakin? Masa’?

    4. Bagaimanad dengan cara lain selain mencapai 150 SKP?

    Menurutnya, ada 2 opsi. Yaitu:
    1. Ikut OSCE atau uji kompetensi (bukan SKPA) lokasi ujiannya di jakarta dan prediksi akan dimulai bulan JULI 2015
    2. Reschooling atau belajar lagi. Opsi ini masih dalam tahap pengembangan.

    5. Bagaimana jika seorang Apoteker dengan alasan tertentu tidak sanggup untuk memenuhi jumlah SKP ketika akan resertifikasi?

    untuk kasus khusus seperti berhenti di tengah jalan karena ikut istri atau lainnya nanti ada yang namanya INTERNSHIP alias magang untuk menutupi kekurangan SKP, mininal 1 bulan magang bisa dapat 36 SKP.

    6. Bagaimana kalau SKP lebih dari 150, apakah hangus?

    Bagi yg punya kelebihan SKP, tidak hangus dan masih bisa digunakan untuk resertifikasi berikutnya, tapi dihargai 50% dari nilai total SKPnya yang kelebihan.
    Top
    thresia maria wonga
    Posts: 1
    Joined: Wed Jul 01, 2015 8:53 am
    Contact: Contact thresia maria wonga
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Postby thresia maria wonga » Wed Jul 01, 2015 9:00 am

    Pak sya stuju skali dengan hal ini, inilah praktek nyata apoteker yang nanti akan berdampak pada nilai SKP kita.. cuman sya mw tya utk smua hal yang akan kita lakukan tersebut perlukah laporan, atw sk atw apapun itu yang membuktikan bahwa kegiatan praktek apoteker kita absah.. atw ada tim verifikasi utk hal tersebut, krn sya berpraktek sebagai apoteker yang stand by 7 jam d apotek dan aktif dlm pelayanan farmasi.. trima ksih
    Top
    Zahran
    Posts: 10
    Joined: Mon Jul 06, 2015 11:32 am
    Contact: Contact Zahran
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Postby Zahran » Mon Jul 06, 2015 11:51 am

    thresia maria wonga wrote:
    Pak sya stuju skali dengan hal ini, inilah praktek nyata apoteker yang nanti akan berdampak pada nilai SKP kita.. cuman sya mw tya utk smua hal yang akan kita lakukan tersebut perlukah laporan, atw sk atw apapun itu yang membuktikan bahwa kegiatan praktek apoteker kita absah.. atw ada tim verifikasi utk hal tersebut, krn sya berpraktek sebagai apoteker yang stand by 7 jam d apotek dan aktif dlm pelayanan farmasi.. trima ksih

    Kalau ga salah sih sebagai bukti bahwa 7 jam stand by, harus dibuat semacam log book dan SIPA, cukup tidak perlu verifikasi,
    verifikasi langsung sama IAI nya ketika ajukan perpanjangan sertifikat kompetensi,

    mungkin teman2 ada yang pernah?
    Top
    fransiska
    Posts: 1
    Joined: Thu Jan 21, 2016 3:52 pm
    Contact: Contact fransiska
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Postby fransiska » Thu Jan 21, 2016 4:07 pm

    Saya setujuh dgn sistem skp….dg begitu kita terdorong untuk selalu nengembangkan diri…yang saya ingin tykan, saya py beberapa px yg saya monitoring minum obat. Aoa saja yg perlu saya kampirkan untuk peroleh skp? terus kemana saya peroleh skp?
    Top
    Anggi Kusuma Dewi
    Posts: 1
    Joined: Thu Jan 28, 2016 4:12 pm
    Contact: Contact Anggi Kusuma Dewi
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Postby Anggi Kusuma Dewi » Thu Jan 28, 2016 4:24 pm

    bagimana dengan paraktisi industri?
    setiap hari full 8 jam kerja dan belum termasuk lembur.
    Top
    adien
    Posts: 2
    Joined: Tue Mar 01, 2016 3:44 am
    Contact: Contact adien
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Postby adien » Tue Mar 01, 2016 6:10 am

    [quote=”abidhuan”]Dari postingan [url]http://bidhuan.id/2015/06/03/inilah-jawaban-cerdas-tentang-polemik-sistem-kompetensi-apoteker/[/url]
    berikut adalah 6 pertanyaan yang dijawan dengan cerdas oleh TS Teguh

    1. Mengapa Apoteker harus mengumpulkan SKP? Mengapa organisasi profesi apoteker yakni Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) pekerjaannya hanya mempersulit anggotanya?

    “Amanat PP 51/2009 pasal 37 adalah setiap apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian harus memiliki sertifikat kompetensi profesi, sertifikat berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang melalui uji kompetensi. Serifikat kompetensi merupakan syarat untuk memperoleh STRA (Pasal 40 PP 51/2009 dan pasal 7 PMK 889/2011). Pasal 11 PMK 889/2011 “Uji kompetensi dilakukan oleh organisasi profesi melalui pembobotan Satuan Kredit Profesi (SKP)”
    Jadi jelas ya bahwa uji kompetensi, sertifikat kompetensi dan SKP bukan akal2an IAI tapi merupakan perintah peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.

    2. Jumlah 150 SKP sangatlah memberatkan, mahal dan merepotkan, apalagi untuk Apoteker di daerah luar pulau Jawa yang tidak ada seminar. Tidak mungkin kami bisa meraih 150 SKP? IAI tidak respek dengan anggotanya, pekerjaannya hanya mencari untung dari anggotanya

    TS Apoteker yg lg galau janganlah mudah terbawa emosi dan hasutan. Akan saya coba jelaskan RAHASIA ABAD INI “CARA MEMPEROLEH 150 SKP FULL TANPA SEMINAR & TANPA BIAYA”. Caranya:
    Untuk mengajukan resertifikasi, apoteker harus memenuhi 150 SKP selama 5 tahun dengan ketentuan sbb:
    1. 60-75 SKP dari Praktek (wajib)
    2. 60-75 SKP dari pembelajaran (wajib)
    3. 7,5-22,5 dari pengabdian masyarakat (wajib)
    4. Publikasi ilmiah di bidang farmasi, max 37,5 SKP (tambahan)
    5. Pengembangan ilmu & pendidikan, max 37,5 SKP (tambahan)

    Di dalam blognya hanya menjelaskan hal yang wajib saja

    1. Cara mendapatkan SKP Praktek:
    Wajib praktek minimal 2000 jam/5 tahun = 400 jam/tahun = 34 jam/bulan = 1,5jam/hari dengan ini saja anda sudah dapat 30 SKP, jika anda punya kelebihan jam akan dihitung 100jam setara dg 1 SKP (max. 20 SKP). Jadi dengan praktek selama 4000 jam, anda dapat 50 SKP. Namun, pengertian ini tidak dapat diartikan bahwa apoteker cukup hanya praktek selama 4000 jam saja

    Disini Apoteker dengan mudahnya akan mendapat 50 SKP

    Bagaimana dengan sisa 10-25 SKP ? Caranya:
    a. Melakukan monitoring dan pelaporan ESO = 2 SKP/kasus. Jika 1 tahun 1 kasus maka anda sudah dapat 10 SKP lagi,
    b. Menjadi pendamping minum obat pasien secara paripurna = 2 SKP/pasien/kasus. Jika 1 tahun 1 kasus maka anda sudah dapat 10 SKP lagi,
    c. Mengedukasi kelompok pasien (min. 10 orang/pertemuan) = 3SKP/pertemuan. Jadi anda bisa bikin kelas untuk pasien (misal kelas DM, asam urat, panu dll). Jika anda punya 1 kelas saja dan 1 tahun sekali saja maka anda sudah dapat 15 SKP,
    d. Terlibat dalam kelompok kerja (pokja) kefarmasian = 2 SKP/SK (surat keputusan)
    e. Melakukan penjaminan mutu seperti SPO, catatan, rekaman, form-form yang menunjang pekerjaan farmasi = max 5 SKP/5 tahun
    f. Membuat brosur/leaflet = max 5 SKP/5 tahun.

    2. Cara mendapatkan SKP Pembelajaran:
    a. Untuk seminar dan sejenisnya bisa dikesampingkan dengan alasan berbayar
    b. Melakukan tinjauan kasus = 2 SKP. Jadi kalo 1 tahun 1 kasus, anda sudah dapat 10 SKP pembelajaran. Lalu bagaimana dengan sisa 50-65 SKP lagi?
    c. Kajian “peer review” (min. 3 apoteker) = 3 SKP utk penyaji dan 2 SKP utk pendengan. Jadi kalo anda 1 tahun sekali menjadi penyaji dan pendengar, maka anda sudah dapat 25 SKP.
    d. Diskusi kefarmasian (min. 5 apoteker) = 3 SKP utk penyaji dan 2 SKP utk pendengan. Jadi jika anda aktif ikut pertemuan IAI dan ada diskusi/materi pembelajaran (mirip presentasi ilmiah/seminarlah) dilakukan 3 bulan sekali secara rutin maka dalam 1 tahun minimal dapat 8 SKP, 5 tahun 40 SKP.
    e. Bagi anda yg berhasil menyelesaikan studi lanjut di bidang farmasi, anda dapat SKP yang besar (S2 = 50 SKP, S3 = 75 SKP)

    3. Cara mendapatkan SKP pengabdian masyarakat:
    a. Penyuluhan tentang obat/OT/narkoba/AIDS/TB/malaria dll = 3 SKP/kegiatan (bobot SKP per 2 jam)
    b. Memahamkan tentang distribusi/penyimpanan obat kepada kelompok masyarakat atau tenaga kesehatan lain atau fasilitas pelayanan kesehatan lain = 3 SKP/kegiatan (bobot SKP per 2 jam)
    c. Pengobatan massal = 2 SKP/kegiatan (8 jam)
    d. Pembinaan posyandu/lansia = 2 SKP/kegiatan (bobot SKP per 2 jam)
    e. Menjadi pengurus aktif IAI atau himpunan seminat = 5 SKP/tahun

    3. Merepotkan, susah dan berat untuk mendapatkan 150 SKP

    Namanya juga kompetensi. Kalo masih ada yang merasa susah dan berat, pertanyaan saya “ Yakin anda apoteker yang berkompeten? Bener anda yakin? Masa’?

    4. Bagaimanad dengan cara lain selain mencapai 150 SKP?

    Menurutnya, ada 2 opsi. Yaitu:
    1. Ikut OSCE atau uji kompetensi (bukan SKPA) lokasi ujiannya di jakarta dan prediksi akan dimulai bulan JULI 2015
    2. Reschooling atau belajar lagi. Opsi ini masih dalam tahap pengembangan.

    5. Bagaimana jika seorang Apoteker dengan alasan tertentu tidak sanggup untuk memenuhi jumlah SKP ketika akan resertifikasi?

    untuk kasus khusus seperti berhenti di tengah jalan karena ikut istri atau lainnya nanti ada yang namanya INTERNSHIP alias magang untuk menutupi kekurangan SKP, mininal 1 bulan magang bisa dapat 36 SKP.

    6. Bagaimana kalau SKP lebih dari 150, apakah hangus?

    Bagi yg punya kelebihan SKP, tidak hangus dan masih bisa digunakan untuk resertifikasi berikutnya, tapi dihargai 50% dari nilai total SKPnya yang kelebihan.[/quote]
    Pasal 11 PMK 889 2011 : ayat ke 2 dijelaskan (pedoman penyelenggaraan uji kompetensi ditetapkan oleh KFN) jadi kalo kita hanya mengacu ke ayat 1 kayaknya kurang tepat kalo kita membahas masalah undang – undang, ,sedangkan kalo kita tetap melaksanakan uji kompetensi dengan dasar pedoman yang dibuat sendiri oleh IAI itu jg seharusnya patut dipertanyakan, seharusnya KFN yang membuat pedoman tersebut. dan sampai sekarang apakah sudah ada pedoman tentang perpanjangan sertifikasi oleh KFN?
    Top
    adien
    Posts: 2
    Joined: Tue Mar 01, 2016 3:44 am
    Contact: Contact adien
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Postby adien » Tue Mar 01, 2016 6:22 am

    Pasal 11 PMK 889 2011 : ayat ke 2 dijelaskan (pedoman penyelenggaraan uji kompetensi ditetapkan oleh KFN) jadi kalo kita hanya mengacu ke ayat 1 kayaknya kurang tepat kalo kita membahas masalah undang – undang, ,sedangkan kalo kita tetap melaksanakan uji kompetensi dengan dasar pedoman yang dibuat sendiri oleh IAI itu jg seharusnya patut dipertanyakan, seharusnya KFN yang membuat pedoman tersebut. dan sampai sekarang apakah sudah ada pedoman tentang perpanjangan sertifikasi oleh KFN?
    Top
    Sugeng santoso
    Posts: 1
    Joined: Mon Mar 14, 2016 7:30 am
    Contact: Contact Sugeng santoso
    Re: Jawaban cerdas tentang Polemik SKP
    Unread postby Sugeng santoso » Mon Mar 14, 2016 7:45 am

    Menurut saya SKP janganlah dipolemikan marilah kita bekerja sesuai Profesi Kita sebagai Pengabdian kita Kepada Masyarakat, jika kita bekerja ikhlas maka apapun yang dipersyaratkan oleh IAI lewat KFN harus lah ditaati karena kita adalah bagian / anggota dari organisasi besar bernama IAI.

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.

Follow us

4,577FansLike
20FollowersFollow
1,949FollowersFollow

Baca juga

Terbaru