Kisah Tragis 2 Dokter Muda yang Meninggal Ketika PTT di Pelosok Negeri

3118

Berita duka kembali menyelimuti dunia kesehatan di Indonesia. Dokter Dionisius Giri Samudra alias Andra (24), meninggal ketika mengikuti program Dokter Internsip di Kepulauan Aru – Maluku, 11 November 2015. Kisah tragis seorang dokter ini dikarenakan sakit Encephalitis Post Morbilli.

Kisah Tragis 2 Dokter Muda yang Meninggal Ketika PTT di Pelosok Negeri. Ternyata ada juga dokter muda yang meninggal saat bertugas di daerah pelosok sebelumnya yang bernama dokter Dhanny Elya Tangke (27) yang ditempatkan di daerah endemik.

dokter danny
Sumber : Facebook PB IDI

Dhanny merupakan seorang dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tahun 2012. Dia meninggal dunia pada 13 Mei 2015 di RSUD Abeparu Jayapura karena diserang malaria. Dhanny bertugas sebagai dokter PTT di Kabupaten Pegunungan Bintang, Propinsi Papua, sejak 2013.

Sedangkan dr Dianisius Giri meninggal dikabarkan karena infeksi morbili atau biasa disebut campak dan  juga komplikasi radang selaput otak. Selain itu juga ada infeksi paru-paru, saluran pernafasan. Penyakitnya kiat memburuk dan tidak memungkinkan untuk di rujuk.

Karena kondisi transportasi yang sulit. Naik kapal fery bisa 12 jam ke kota terdekat yakni Kota Tual. Naik pesawat tidak bisa karena pesawat sudah tidak beroperasi

dr andra
Sumber : @infobencana

Beberapa rekan sejawat dokter lainnya mulai menuliskan status belasungakwa dan kritikannya melalui akun pribadinya. Diantaranya dilakukan oleh akun Dokter Rudi Rafisa.

Telah Meninggal dunia, dr. Dionisius Giri Samudra (andra), seorang dokter Internsip yang penempatan RSUD Cenderawasih Dobo Kep. Aru. Penempatan periode Mei Tahun 2015, karena Encephalitis Post Morbilli. Meninggal di RS Dobo pada bari ini 11 November 2015 jam 18:16 WIT. Rencana evakuasi jenazah akan dilakukan besok atas koordinasi Pemda Kab Kep. Aru dan Pemda Kab Tual.

Berita tersebut terdengar sangat mengenaskan. Itulah salah satu bentuk perjuangan profesi dokter yang menurut sebagian orang profesi yang penuh cela seperti berita akhir2 ini bahwa dokter hanya hidup enak2, berkolusi dengan farmasi dll. Tapi berita seperti tidak pernah diangkat, meski diangkat pun hanya sekilas & tenggelam ditelan waktu tp berita buruk terus menerus diberitakan. Miris mendengar berita ini.

Betul sekali semboyan bagi pencari berita “Bad news is a good news”. Selayaknya lah kasus ini mendapat perhatian pemerintah, di saat baru saja kita memperingati Hari Pahlawan 10 November, kiranya tidak berlebihan pemberian Gelar Pahlawan Kesehatan Dokter Internsip bagi adik kami Dr. Andra.

Besok tanggal 12 November bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional, bagi semua sejawat untuk mengheningkan cipta barang sejenak sebagai gerakan moral. Juga pemasangan pita hitam di lengan kiri sebagai suasana berkabung bagi seluruh profesi dokter agar kita niatkan untuk kebersamaan kita satu profesi, satu gerakan, satu bangsa, demi menjunjung tinggi Sumpah Dokter bagi kemanusiaan di tengah2 maraknya isyu buruk terhadap profesi dokter.. Viva Medica… Jayalah Dokter Indonesia…

Semoga Ibu Menkes juga Bapak Presiden & Wakil Presiden memperjuangkannya. Apalagi hari ini juga bertepatan dengan Pembukaan Muktamar Nasional IDI di Istana Negara.

Akun facebok PB IDI pun mengeluarkan pernyataan resminya seperti berikut ini

Rabu, 11 November 2015, satu sejawat dokter di Indonesia meninggal dalam menjalankan tugas pengabdiannya di Aru-Maluku. Tepat sehari sebelum peringatan Hari Kesehatan Nasional.

Dr. Dionisius Giri. Dokter yang sudah menjalani enam bulan dari satu tahun masa internsipnya. Kabar sakitnya dokter yang masih muda dan baru menyelesaikan studinya di tahun 2015 itu menyebar dengan cepat dan spontan memancing rasa keprihatinan dari banyak sejawatnya.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) turut menyampaikan belasungkawa dan empati yang dalam kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

Dari kejadian ini, kita tersadarkan mengenai risiko bagi mereka yang menekuni profesi kedokteran. Kita kembali mengingat beberapa kejadian serupa yang dialami dokter-dokter, yang dengan berani bertugas di daerah dengan medan pengabdian berat dan berisiko tinggi di daerah endemis penyakit tertentu.

Kejadian serupa di masa depan kami harap tak terulang lagi. Oleh karena itu PB IDI mengajak Pemerintah pusat dan daerah untuk bersama-sama membekali dokter-dokter dan tenaga kesehatan lain yang dikirim ke daerah agar lebih siap. Melakukan langkah profilaksis dan tatalaksana awal jika dokter dan paramedis juga jatuh sakit. Akses informasi dan prosedur evakuasi perlu ditingkatkan untuk daerah sangat terpencil, kepulauan, dan perbatasan di mana terdapat pelayanan kesehatannya.

PB IDI menghimbau kepada seluruh jajaran pengurus IDI wilayah maupun cabang serta perhimpunan dokter untuk ikut berkabung dan menyiapkan pernyataan duka cita. Semoga sejawat semua selalu dalam lindungan Tuhan dan limpahan kesehatan di tempat pengabdian masing-masing.

Jakarta, 11 November 2015

Ketua Umum

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Dr.Zaenal Abidin,S.H,M.H.Kes



Ucapan belasungkawa dari Netizen di media sosial pun mulai bertebaran.