Ketika Oknum Apotek Dikritik Dokter Karena Jalankan Swamedikasi

0
1912
dokter apoteker

Seorang dokter berinisial DBS menceritakan pengalaman pribadinya dalam status facebooknya yang kemudian banyak dishare oleh rekan sejawatnya. Dalam statusnya pula ditampilkan foto poster Swamedikasi di salah satu apotek yang sebelumnya ramai dibicarakan. [Baca : Poster Swamedikasi di Apotek Ramai Dibicarakan Netizen di Facebook].

Ketika Oknum Apotek Dikritik Dokter Karena Jalankan Swamedikasi membuat kembali ramai media sosial saat ini. Menurut DBS, statusnya bukan untuk menyalahkan atau menyudutkan pihak-pihak tertentu tetapi untuk berdiskusi secara cerdas. Selain itu tertulis harapannya untuk pihak terkait agar lebih memperhatikan terhadap kasusnya saat ini.

Berikut adalah status yang dibuat pada 11 Oktober 2015.

status facebook dokter

Nemu gambar ini di medsos,kebetulan nyambung dgn kejadian yg br saya alami kemarin Sabtu 10-10-2015 saat sdg jaga IGD di salah 1 RS,bgini ceritany:

Seorang pasien laki2 48 tahun diantr kluarga dgn keluhan sejak siang bicara ngelantur,pasen sadar cma lemas dn tampak sperti org bingung bicra ga nyambung…vital sign normal,stlh dilakukan wawancra ato anamnesa,pasen tsb td pagi minum obat Glibenclamide 1 tablt,sya tanya drimana obat tsb dperoleh,istriny menjwab dpet dri apotik,koq bsa?apa pasen punya riwayat penyakit gula?

Jadi sblmny bapak tsb dtg ke APOTIK yg menawarkan cek gula darah asam urat kolesterol,kmd bapak tsb mnta dicek gula darah dan hasilny dibawah 200 sekitar 190an,oleh oknum apotek tsb kmd dijelaskanlah bahwa bapak punya penyakit gula,diberi obat glibenclamide 1×1 dan dsurh meminum daun/tanaman insulin (?)yg drebus kmd dminum airnya,setelah 2 hari minum obat gula timbullah gejala diatas dan lgsg dbawa ke IGD dan setelah saya cek gulany keluar angka 46 alhasil pasen tsb HIPOGLIKEMIA…

Oyah keluarga tidak tau apakah yg memberikan obat tsb apoteker,pegawe apotek atau siapapun itu…
Sekali lagi itu bukan untuk menyudutkan salah 1 pihak,tapi apa betul peraturan di dunia kesehatan sudah berubah,apakah profesi lain selain dokter boleh mendiagnosis penyakit,dari kasus di atas terlihat oknum di apotek tsb mendiagnosis hanya dri angka di alat cek gula darah,padahal kami di FK belajar 1 penyakit gula atau Diabetes Melitus bisa 3-4 semester mulai dari anatomi,histologi,fisiologi,farmakologi,patofisiologi,penyakit dalam…

Semoga orang2 pintar yg berwenang membuat kebijakan bisa lebih concern thd hal ini di tengah2 isu Patient Safety yg sedang digalakkan,permasalahn kesehatan di Indonesia tidak akan selesai dan terurai jika masing2 pihak mementingkan ego profesi dan kelompoknya sendiri,siapa yang jadi korban?bukan saya,anda atau kita tapi ratusan juta masyarakat Indonesia…
Mari diskusi secara cerdas….

Komentar pun mulai bermunculan diantaranya

RPH:
iya emg banyak bgt oknum kaya gtu mas dpwt. kalau tenaga kesehatan yg ditawarin suka ngakak sendiri.

SSY:
msh banyak masy yg menganggap klnbeli obat tabpa R/ di apotik adalah tindakan yg benar. Msh banyak apotik yg membrkan obat sesuai keluhan pembeli berupa obat rombongan/racikan (minimal isi 3 mac obat). Ada jg masy yg beranggapan dg membeli obat di apotik sbg pertolongan pertama/obat sederhana.

SN:
Lah gliben kan nurunin cepet.. yo lemes ya….. mungkin di apoteker tersebut kurang mengusai lahan nya.. ato bukan apoteker pemberi obat.. untuk obat rombongan lepas dari segel itu sudah dilarang IAI. Sebenarnya kalo apoteker tersebut paham OWA obat wajib apotek dan tau batasannya. Insyaallah masyarakat terlindungi dg fungsi apoteker tersebut. Mari belajar lagi. Salam super !!!



ESN:
Yg jadi masalah ga semua pelayan apotik itu apoteker,kebanyakan anak2 lulusan sma,q ngalami sendiri dekat rmh q apotik,setiap ada pelanggan dtg “bilang keluhannya ini dan ini sang pelayan sprti seorang dr aja,obatnya ini mau minum beli brp kali minum,aq smp berpikiran oh bedanya dokter sm penjual obat,klo penjual obat mau beli brp minuman,klo dokter ta kasih obat untuk 3 hari…he…he…maaf ya…

SHARE